Nasional

Dewan Ekonomi Nasional Bertemu Presiden Prabowo Bahas Kondisi Ekonomi RI

191
×

Dewan Ekonomi Nasional Bertemu Presiden Prabowo Bahas Kondisi Ekonomi RI

Sebarkan artikel ini
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan pada Selasa, (9/6/2026) menyambangi Istana Negara untuk menghadao Presiden Prabowo Subianto guna membahas sejumlah isu ekonomi nasional. (Istimewa)

Time Indonesia – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) pada Selasa, (9/6/2026) menyambangi Istana Negara untuk menghadap Presiden Prabowo Subianto guna membahas sejumlah isu ekonomi nasional.

Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pertemuan itu membahas sejumlah isu ekonomi, termasuk pembenahan tata kelola MBG dan optimalisasi digitalisasi pelayanan publik pemerintah.

“Setelah kami dipanggil oleh Presiden, saya kira penjelasan pertama adalah hasil survei yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi mengenai pelaksanaan makan bergizi yang kita lakukan di 800 titik, jadi betul-betul dengan profesional. Jadi kita harus, kami di DEN menjaga betul kredibilitas kami dan itu kami laporkan ke Presiden detail,” kata Luhut usai pertemuan, di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Turut hadir ke Istana Negara bersama Ketua DEN adalah anggota DEN M. Chatib Basri, Septian Hario Seto, dan Firman Hidayat.

Luhut Pandjaitan menyampaikan, pihaknya melaporkan mengenai government technology yang sudah terkoneksi 80 persen. “Jadi pemerintahan Presiden Prabowo ini nanti govtech ini akan menjadi satu bagian yang paling penting. Kenapa, karena semua data nanti akan terkumpul dengan baik dan kita tidak ada yang bisa lari dari situ,” ujar Luhut.

Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan pihaknya telah melakukan survei independen terhadap pelaksanaan MBG secara random sampling. Survei itu untuk mendalami ekosistem rantai pasok. “Jadi satu hal tadi yang kami laporkan kepada Bapak Presiden adalah hasil dari survei MBG yang kami lakukan secara independen. Kami biayai sendiri terkait dengan terutama kami ingin melihat apakah ada ekosistem supply chain baru yang terbentuk ketika MBG program ini dijalankan,” kata Seto.

Menurur Seto, hasil survei menunjukkan 86,9 persen dari SPPG yang ada memiliki satu pemasok kecil. “Jadi ini bisa digambarkan, merepresentasikan dari total keseluruhan populasi SPPG yang ada. Hasil pertama yang kami melihat positif adalah bahwa ada 86,9 persen dari SPPG yang ada saat ini itu paling tidak memiliki satu supplier kecil. Jadi ini adalah UMKM yang memang ada di dekat lokasi dari SPPG tersebut,” ujarnya.  “Kalau dihitung secara rata-rata ada tiga UMKM yang digandeng oleh SPPG ini. Jadi ini membuktikan bahwa program MBG ini selain tadi mencapai tujuan Bapak Presiden untuk perbaikan gizi dari anak-anak Indonesia, ini juga menciptakan ekosistem supply chain yang baru. Nah, yang lebih menarik ada sekitar 64-65 persen sektor UMKM-nya ini berada di dalam satu kabupaten di mana SPPG itu berada,” tambah Seto.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *