Nasional

Inovasi Siswa Banyuwangi: Limbah Cair Disulap Jadi Kompor Ramah Kantong

151
×

Inovasi Siswa Banyuwangi: Limbah Cair Disulap Jadi Kompor Ramah Kantong

Sebarkan artikel ini
Istimewa

Time Indonesia – Pelajar SMK Gajah Mada, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, berhasil menciptakan kompor berbahan bakar limbah cair berupa oli bekas dan minyak goreng bekas pakai atau jelantah.

Inovasi tersebut tidak hanya dinilai ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan satu liter oli bekas atau minyak jelantah, kompor dapat menyala selama tiga hingga empat jam. Inovasi ini diharapkan dapat membantu mengurangi limbah sekaligus menjadi solusi hemat energi bagi masyarakat.

Guru pembimbing Jurusan Otomotif SMK Gajah Mada, Rusianto, mengatakan gagasan membuat kompor tersebut berawal dari keresahan melihat banyaknya limbah oli dari bengkel dan minyak jelantah dari industri rumahan yang kerap dibuang begitu saja.

“Padahal ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Dengan demikian, limbah cair tersebut tidak sampai terbuang yang akhirnya bisa menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan,” kata Rusianto.

Menurut Rusianto, ide tersebut juga muncul dari keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan masyarakat pada elpiji. Karena itu, kompor berbahan limbah cair tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi rumah tangga maupun pelaku usaha kecil kuliner.

“Maka ini bisa menjadi solusi alternatif bagi ibu rumah tangga maupun usaha kecil kuliner. Meski menggunakan bahan bakar jelantah maupun oli bekas, tidak memengaruhi rasa pada masakan. Tidak ada bau sama sekali,” katanya.

Kompor rakitan tersebut dibuat dari bahan sederhana, seperti pipa besi sebagai rangka, blower sebagai alat pendorong bahan bakar, keran air untuk mengalirkan bahan bakar, serta kaleng sebagai tempat pemanas.

Cara kerjanya juga cukup mudah. Sebelum digunakan untuk memasak, kompor dipanaskan secara manual selama sekitar lima menit. Setelah itu, keran dibuka untuk mengalirkan bahan bakar, lalu blower dinyalakan untuk mengatur besar kecilnya nyala api.

“Kami menerima pesanan untuk rumah tangga maupun UMKM. Harganya sangat terjangkau, bisa custom sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berkesempatan melihat langsung inovasi tersebut saat kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, pada 7 Mei 2026. Ia mengapresiasi kreativitas guru dan siswa SMK Gajah Mada Banyuwangi.

“Ini ide kreatif supaya masyarakat tidak hanya bergantung pada LPG. Ternyata ada alternatif bahan bakar yang sangat mudah didapatkan. Bahkan di rumah kita juga setiap hari memproduksi limbah,” ujar Ipuk.

Ipuk meminta inovasi tersebut terus disempurnakan agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.

“Biar bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan banyak orang. Saya berharap kreativitas ini bisa menjadi motivasi bagi pelajar yang lain untuk menghasilkan karya-karya yang lebih inovatif,” katanya. (*)

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *