NasionalPendidikan

Alumni Tambakberas Khilma Anis Raih Radar Jember Awards 2026, Bawa Nilai Pesantren ke Sastra dan Sinema Nasional

535
×

Alumni Tambakberas Khilma Anis Raih Radar Jember Awards 2026, Bawa Nilai Pesantren ke Sastra dan Sinema Nasional

Sebarkan artikel ini

Novelis Hati Suhita Konsisten Mengangkat Perempuan, Budaya Jawa, dan Dunia Pesantren dalam Karya

Time Indonesia – JOMBANG, 21 Agustus 2026 – Alumni Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Khilma Anis, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Novelis Hati Suhita tersebut meraih Jawa Pos Radar Jember Awards 2026 kategori The Excellence in Literary, Cinematic, and Women’s Empowerment Award.

Penghargaan tersebut menjadi salah satu dari sederet capaian Khilma dalam perjalanan panjangnya sebagai santri, penulis, sineas, sekaligus penggerak pemberdayaan perempuan.

Lebih dari sekadar prestasi personal, kiprah perempuan kelahiran Jember itu juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas. Dari lingkungan pesantren tempatnya pernah menimba ilmu, Khilma tumbuh menjadi salah satu penulis yang konsisten membawa nilai-nilai pesantren, tradisi Jawa, spiritualitas, serta dunia batin perempuan ke ruang publik yang lebih luas.

Khilma mengaku bersyukur atas penghargaan tersebut. Baginya, setiap pencapaian tidak pernah lahir dari perjalanan seorang diri, tetapi selalu melibatkan banyak orang yang membersamai proses berkarya.

“Alhamdulillah, tentu saya bersyukur dan berterima kasih kepada Jawa Pos Radar Jember atas penghargaan ini. Saya tidak pernah melihat karya-karya yang saya lahirkan sebagai capaian saya sendiri. Ada banyak orang yang membersamai, ada pembaca, keluarga, para santri, teman-teman perempuan yang menjadi agen dan mitra, juga orang-orang yang selama ini ikut merawat karya-karya tersebut,” kata Khilma.

Dari Santri Tambakberas, Membawa Pesantren ke Ruang Sastra

Jejak kepesantrenan menjadi bagian penting yang membentuk karakter karya Khilma. Ia pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas, Jombang, kemudian melanjutkan perjalanan intelektual pesantrennya di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.

Pengalaman panjang hidup di lingkungan pesantren membuat dunia santri bukan sekadar latar dalam karya-karyanya. Pesantren hadir sebagai ruang kehidupan dengan kekayaan nilai, tradisi, relasi sosial, spiritualitas, kebudayaan, hingga dinamika perempuan di dalamnya.

Khilma bahkan berusaha menghadirkan wajah pesantren yang berbeda dari stigma kuno, terbelakang, maupun identik dengan dominasi laki-laki. Pengalamannya selama menjadi santri justru memperlihatkan bagaimana perempuan, terutama para nyai, sejak lama memiliki peran penting dalam pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan pesantren.

Warna tersebut begitu kuat dalam salah satu karya fenomenalnya, Hati Suhita. Novel ini membawa dunia pesantren, budaya Jawa, relasi keluarga, spiritualitas, serta pergulatan batin perempuan kepada pembaca dalam skala yang jauh lebih luas.

Hati Suhita awalnya lahir sebagai cerita bersambung yang ditulis Khilma melalui Facebook pada 2019. Respons publik ternyata luar biasa. Jumlah pengikutnya meningkat drastis hingga sekitar 150 ribu. Cerita yang awalnya hanya terdiri atas 13 bab kemudian dikembangkan menjadi novel utuh sebanyak 33 bab dalam waktu sekitar tujuh bulan.

Popularitas Hati Suhita kemudian menembus batas medium sastra. Novel tersebut diadaptasi menjadi film layar lebar dan tayang pada 2023. Khilma turut terlibat dalam proses kreatif, mulai dari penulisan skenario, pemilihan lokasi, hingga pemeran. Karya tersebut selanjutnya juga dikembangkan menuju format serial.

Capaian itu memperlihatkan bagaimana karya yang berakar kuat dari kehidupan pesantren mampu diterima masyarakat luas dan bergerak dari ruang sastra menuju industri perfilman nasional.

“Bagi saya, menulis adalah bagian dari ngaji dan berdakwah. Ketika kemudian karya itu dibaca banyak orang, difilmkan, dan bisa ikut membuka ruang bagi perempuan untuk tumbuh dan mandiri, saya merasa karya itu menemukan jalan manfaatnya. Penghargaan ini justru menjadi pengingat agar saya tidak berhenti belajar dan berkarya,” ujarnya.

Kiprah Khilma tidak berhenti pada keberhasilannya sebagai novelis dan sineas. Nilai yang ditulisnya tentang kekuatan perempuan juga diwujudkan dalam gerakan nyata.

Dalam mengembangkan karya secara independen, Khilma membangun jejaring lebih dari 200 agen Hati Suhita yang seluruhnya perempuan. Jejaring tersebut tersebar di Jawa, luar Jawa, bahkan hingga Malaysia dan Taiwan.

Para perempuan tersebut tidak sekadar menjadi agen pemasaran buku. Khilma mendorong mereka tumbuh menjadi perempuan yang mandiri secara mental dan ekonomi sekaligus menjadi agen kebudayaan yang memahami karya, tradisi, pesantren, dan nilai-nilai yang dibawa dalam karya sastra.

Dari ekosistem itu juga berkembang berbagai produk kreatif seperti jilbab, mukena, tas, gelang, dan produk lainnya yang mengangkat unsur wayang serta tradisi Jawa.

Bagi Khilma, perempuan memang menempati posisi penting dalam keluarga maupun kehidupan sosial. Ia menyebut perempuan sebagai soko guru atau tiang penyangga utama yang harus memiliki kekuatan ilmu, pengalaman, kemandirian, kebijaksanaan, dan spiritualitas.

“Saya selalu percaya perempuan adalah soko guru, tiang penyangga keluarga dan masyarakat. Karena itu perempuan harus kuat. Kuat dengan ilmu, pengalaman, kemandirian, dan spiritualitas. Perempuan harus terus belajar, menjadi sumur sinaba, supaya kehadirannya selalu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya,” tegasnya.

Pandangan tersebut berkelindan dengan berbagai falsafah Jawa yang kerap mewarnai pemikiran dan karya Khilma. Salah satunya wanita, wani tapa: perempuan harus memiliki keteguhan, kemampuan mengendalikan diri, ketenangan batin, sekaligus keterhubungan yang kuat dengan Sang Pencipta.

Direktur Jawa Pos Radar Jember Choliq Baya mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap konsistensi Khilma dalam berkarya sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Khilma Anis atas dedikasi dan konsistensinya selama ini. Khilma menunjukkan bahwa sebuah karya tidak berhenti pada prestasi personal. Dari literasi, karyanya bergerak ke sinema, membawa kekayaan pesantren dan budaya kepada publik yang lebih luas, sekaligus tumbuh menjadi gerakan yang ikut memberdayakan perempuan,” kata Choliq.

Menurutnya, kemampuan Khilma membawa kekayaan lokal, dunia pesantren, dan perspektif perempuan ke ruang yang lebih luas menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan karyanya.

“Khilma Anis adalah salah satu sosok inspiratif dari Jember yang karyanya telah menjangkau jauh melampaui daerah kelahirannya. Kami berharap Khilma terus melahirkan karya-karya berkualitas, terus menginspirasi, dan semakin banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia untuk berani berkarya, mandiri, dan memberikan kontribusi terbaiknya,” ujarnya.

Choliq berharap Radar Jember Awards tidak sekadar menjadi penghargaan atas capaian yang telah diraih, tetapi juga menjadi energi untuk terus berkarya dan memperluas manfaat kepada masyarakat.

“Kami ingin Radar Jember Awards menjadi ruang untuk memberikan apresiasi kepada figur-figur yang bekerja, berkarya, dan memberikan dampak. Semoga apa yang dilakukan Khilma menjadi inspirasi bahwa dari Jember kita bisa melahirkan karya, gagasan, dan gerakan yang memberi warna bagi Indonesia,” pungkasnya.

Penghargaan The Excellence in Literary, Cinematic, and Women’s Empowerment Award semakin melengkapi perjalanan Khilma sebagai alumni pesantren yang berhasil membawa dunia yang membentuk dirinya menuju panggung yang semakin luas.

Dari Tambakberas dan perjalanan panjang pendidikan pesantrennya, Khilma membuktikan bahwa nilai-nilai yang tumbuh dari pesantren dapat berdialog dengan perkembangan zaman.

Sastra menjadi jalan dakwah dan kebudayaan. Novel bergerak menuju layar lebar. Sementara keberhasilan sebuah karya dikembangkan menjadi jalan untuk membangun kemandirian dan keberdayaan perempuan.

Di tengah sederet capaian tersebut, Khilma tetap membawa spirit sederhana yang kerap disampaikannya kepada generasi muda: klungsu-klungsu waton udu.

Lebih baik menghasilkan karya sederhana tetapi memberikan sumbangsih daripada hanya berhenti pada angan-angan.

Dari seorang santri Tambakberas, prinsip itu kini menemukan bentuk nyatanya. Karya-karya Khilma Anis tidak hanya dibaca dan ditonton, tetapi turut membawa pesantren, budaya, dan suara perempuan Indonesia ke panggung yang semakin luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *