Nasional

Dari “Membosankan” Menjadi Destinasi Pilihan: KERSANI Coba Ubah Wajah Museum di Mata Pelajar

546
×

Dari “Membosankan” Menjadi Destinasi Pilihan: KERSANI Coba Ubah Wajah Museum di Mata Pelajar

Sebarkan artikel ini

Time Indonesia – Malang, 17 Juni 2026, bagi sebagian besar pelajar, museum identik dengan suasana sunyi, deretan kaca pajang, dan penjelasan yang panjang namun jauh dari dunia mereka. Kesan itu yang justru ingin diubah oleh Museum Singhasari lewat program KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari), sebuah program edukatif yang resmi digelar pada 17 Juni 2026.

Program ini lahir dari kesadaran bahwa museum tidak bisa lagi hanya menunggu pengunjung datang. Museum perlu bergerak mendekati pelajar dengan cara yang mereka pahami dan nikmati. KERSANI pun dirancang bukan sebagai kunjungan biasa, melainkan sebagai titik awal pergeseran persepsi.

Syakilla Dewi Mujizatul Masruroh, mahasiswa yang turut merancang program ini, menyampaikan bahwa perubahan persepsi pelajar menjadi inti dari seluruh konsep KERSANI.

“Kami tidak ingin pelajar pulang dengan kesan yang sama seperti sebelum datang. Kami ingin mereka pulang dengan rasa penasaran — ingin tahu lebih banyak tentang Singhasari, dan ingin kembali lagi ke museum ini,” ungkap Syakilla.

Untuk mewujudkan itu, KERSANI menghadirkan sejumlah elemen yang jarang ditemukan dalam kunjungan museum konvensional. Peserta tidak sekadar berkeliling, melainkan menjalankan misi aktif lewat Kartu Misi yang berisi tantangan dan pertanyaan seputar koleksi Kerajaan Singhasari. Mereka juga dibagi ke dalam kelompok lintas sekolah, sehingga tercipta ruang kolaborasi dan pertemanan baru antar pelajar.

Salah satu elemen paling dinantikan adalah booth MUSTAKA — wahana interaktif yang memungkinkan peserta “menjadi” tokoh Ken Arok dan Ken Dedes melalui teknologi sensor gerak. Peserta bisa mengikuti gerakan memanah yang tampil di layar animasi, menciptakan momen belajar yang terasa seperti bermain.

Kepala Seksi Kesos dan Kepemudaan Kecamatan Singosari, Abid RH, yang mewakili Pemerintah Kecamatan Singosari dalam acara ini, menyambut positif pendekatan yang diusung KERSANI.

“Selain belajar sejarah, siswa juga diperkenalkan dengan permainan tradisional sebagai bagian dari pengalaman belajar di luar kelas. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi siswa maupun masyarakat Malang Raya,” kata Abid.

Dalam skala yang lebih luas, KERSANI diharapkan menjadi model bagi museum-museum lain dalam membangun relevansi di tengah generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Museum Singhasari menunjukkan bahwa warisan sejarah lokal tidak harus menjadi sesuatu yang asing bagi generasi muda — asalkan dikemas dengan cara yang tepat.

Dengan diikuti oleh 21 sekolah dari jenjang SD dan SMP di sekitar kawasan museum, KERSANI hari ini bukan sekadar sebuah acara. Ia adalah pernyataan: bahwa museum bisa menjadi ruang belajar yang hidup, relevan, dan menyenangkan bagi siapa saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *