Nasional

Pameran “TATAH” 2026 Dorong Ukir Jepara Tembus Pengakuan Dunia

323
×

Pameran “TATAH” 2026 Dorong Ukir Jepara Tembus Pengakuan Dunia

Sebarkan artikel ini
Pemerintah mempercepat langkah strategis dalam mendorong seni ukir Jepara menembus pengakuan global sekaligus memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi kreatif nasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pameran Seni Ukir Jepara “TATAH” 2026 yang digelar di Museum Nasional Indonesia (Foto: Istimewa)

Time Indonesia— Pemerintah mempercepat langkah strategis dalam mendorong seni ukir Jepara menembus pengakuan global sekaligus memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi kreatif nasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pameran Seni Ukir Jepara “TATAH” 2026 yang digelar di Museum Nasional Indonesia.

Melalui pameran ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak lagi diposisikan sebatas menjaga warisan, tetapi juga mengoptimalkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan bahwa ukir Jepara memiliki kekuatan historis, filosofis, sekaligus potensi ekonomi yang signifikan. “Ukir Jepara bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga penggerak ekonomi yang memberdayakan perajin, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekosistem industri kreatif,” ujar Fadli Zon, Dalam rangka pembukaan Pameran Ukir Jepara dengan tema “Tatah”, di Museum Nasional, Rabu (29/4/2026).

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan pengajuan ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda dunia ke UNESCO, sebagai bagian dari strategi diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Pameran “TATAH” menghadirkan lebih dari 30 karya ukir, termasuk karya ikonis seperti Macan Kurung dan Kursi Kartini. Mengusung narasi “Suluk–Sulur–Jepara”, pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan karya, tetapi juga mengulas perjalanan panjang tradisi ukir berbasis riset sejarah, sekaligus menunjukkan transformasi teknik dan estetika dari masa ke masa.

Pendekatan edukatif menjadi salah satu kekuatan utama pameran ini. Pengunjung diajak memahami proses kreatif melalui rekonstruksi ruang kerja pengukir (brak), serta mengenal alat dan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini mempertegas fungsi pameran sebagai ruang interaksi antara tradisi dan inovasi.

Dalam perspektif global, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi lintas negara untuk memperkuat pengakuan bersama terhadap tradisi ukir sebagai warisan budaya dunia. Langkah ini sekaligus memperluas jejaring kerja sama budaya dan industri kreatif Indonesia.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa ukir Jepara merupakan bagian dari identitas dan denyut kehidupan masyarakat. “Di balik setiap ukiran, terdapat makna, sejarah, dan penghidupan ribuan keluarga. Ini bukan sekadar produk, tetapi peradaban,” ujarnya.

Namun demikian, tantangan regenerasi perajin menjadi perhatian serius. Penurunan minat generasi muda terhadap profesi pengukir dinilai memerlukan intervensi kebijakan dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

Direktur Pelaksana “TATAH” 2026, Veronica Rompies, menambahkan bahwa pameran ini dirancang sebagai ruang refleksi yang mengangkat ukiran sebagai karya seni adiluhung. “‘TATAH’ mempertemukan nilai sejarah, keterampilan, dan kemanusiaan dalam proses penciptaan karya. Harapannya, dampak pameran ini dapat berlanjut menjadi solusi nyata bagi keberlanjutan hidup para perajin,” jelasnya.

Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem ukir Jepara melalui sinergi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas, dan akademisi. Upaya ini diarahkan agar warisan budaya tetap hidup, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

Pameran yang berlangsung hingga awal Juli 2026 ini diharapkan menjadi momentum strategis dalam mengangkat seni kriya Indonesia ke panggung dunia, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru perajin yang mampu menjaga dan mengembangkan tradisi ukir Jepara secara berkelanjutan.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *