Gb1. Suasana kegiatan edukasional Parental Self-Efficacy
Kabar Nusantara – Surabaya, Mahasiswa Program S2 Magister Sains Psikologi Universitas Surabaya melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) bertajuk “Langkah Awal Penguatan Efikasi Diri Orang Tua Anak dengan Gangguan Pendengaran.” Kegiatan ini diselenggarakan di Nobel Audiology Center, Jl. Dharmahusada No. 115B, Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program S2 Magister Sains Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) dibawah supervisi Dr. Setiasih, M.Kes., Psikolog.
Kegiatan edukasi bertajuk “empowerment parents” ini bertujuan meningkatkan keyakinan diri (self-efficacy) orang tua dalam mendampingi dan mengasuh anak dengan gangguan pendengaran (hearing loss). Krisis kepercayaan banyak dirasakan oleh para orangtua khususnya dengan anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran. Pemikiran awal yang dimiliki orang tua bahwa anaknya cacat dan adanya stigma negatif dari lingkungan membuat beban psikologis yang dirasakan orang tua terasa berat, di sisi lain dalam proses rehabilitasi anak dengan gangguan pendengaran, keterlibatan aktif orang tua sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan komunikasi, bahasa, serta kesejahteraan psikologis anak. Kondisi yang dirasakan orang tua tersebut pada akhirnya mempengaruhi perkembangan anak dengan gangguan pendengaran menjadi kurang maksimal.
Kegiatan pengabdian ini diikuti oleh empat keluarga yang memiliki anak dengan hearing loss atau gangguan pendengaran, didampingi oleh para terapis dari Nobel Audiology Center. Peserta kegiatan ini adalah orang tua dengan anak gangguan pendengaran yang sudah melakukan pemasangan teknologi pendengaran ABD/ CI (Alat Bantu Dengar/Cochlear Implant) serta sudah melakukan terapi mendengar (Auditory Verbal Therapy/AVT). Rentang usia anak adalah 4-8 tahun dengan lama mendengar dengan alat yang dipakai di atas 2 tahun. Materi edukasi disampaikan secara bergantian oleh Mahasiswa Magister Psikologi Sains Ubaya dibantu oleh praktisi AVT dari PT. Nobel Audiology Center.
Melalui pendekatan yang bersifat partisipatif, para partisipan orangtua tidak hanya menerima materi edukatif tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan serta strategi dalam mengasuh anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mencakup penyampaian materi, pembagian modul edukasi dilanjutkan dengan berbagi cerita dan pengalaman yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD). Sebelum masuk dalam materi, peserta diminta memperkenalkan dirinya, menyampaikan kondisi putra putrinya baik dari sisi progres mendengar dan juga tantangan yang dirasakan, baik di rumah maupun di sekolah. Sesi awal ini bertujuan membangun rapport dan membuat orang tua merasa nyaman dan terbuka untuk menyampaikan permasalahan yang dirasakannya.
Selanjutnya dilakukan Psikoedukasi dengan materi yang disesuaikan tujuan dari program pengabdian ini, materi yang disampaikan meliputi pemahaman mengenai pola asuh berdasarkan teori Baumrind, pentingnya penerapan kesabaran dan ketegasan yang tepat dalam proses pengasuhan, serta latihan relaksasi pernapasan sederhana yang dapat membantu orang tua mengelola emosi dan stres selama proses mendampingi (mengasuh) anaknya. Selain itu, dilakukan pre-test dan post-test singkat, dengan meminta orang tua mengisi kuesioner yang menggambarkan tentang keyakinan diri dalam pengasuhan anak (self efficacy). Proses pemberian materi dilakukan dalam konsep interaktif dimana orang tua langsung menganalisa konsep pengasuhan yang selama ini sudah diterapkan berdasarkan teori Baumrind. Dalan diskusi bersama semua sependapat tidak ada pola pengasuhan yang terbaik ataupun sebaliknya, semua harus berdasarkan analisa kebutuhan dari anak, dengan melihat karakteristik tiap anaknya masing masing. Semua partisipan menyetujui bahwa konsep konsistensi, ketegasan serta controlling yang tepat adalah faktor yang penting.
Lebih lanjut, dalam FGD juga dipahami tentang perlunya kesabaran dan resiliensi orang tua ketika secara kontinu harus menerapkan proses belajar pada anaknya. Permasalahan mulai muncul ketika muncul penolakan dari anak. Sebagai contoh, untuk anak anak yang baru belajar mendengar dan bicara, selain tugas akademik orang tua juga mendapatkan tugas pengulangan belajar mendengar dan bicara dari proses terapi AVT. proses yang tidak sebentar, butuh bertahun tahun memunculkan perasaan capek dan putus asa. Hal ini rentan membuat tingkat kesabaran orang tua dalam melakukan proses belajar naik turun atau tidak konsisten. Dalam FGD ini akhirnya masing masing orang tua saling memberikan penguatan dan berbagi strategi yang tepat berdasarkan pengalaman mereka.

Gb2. Foto bersama para orangtua dan anak-anak pasca kegiatan
Selain itu, dalam kegiatan ini para orangtua juga diperkenalkan dengan konsep parental self-efficacy melalui pendekatan DISC Parenting, yang membantu orang tua mengenali kecenderungan gaya perilaku dan pola pengasuhan mereka. Sebagai bagian dari kegiatan reflektif, para orangtua juga diajak untuk menonton cuplikan film edukatif dari kisah “Helen Keller” yang menggambarkan dinamika pengasuhan anak dengan kebutuhan khusus. Sesi ini dilanjutkan dengan diskusi bersama, dimana para orang tua berbagi pengalaman pribadi serta saling memberikan dukungan emosional satu sama lain. Salah satu orangtua mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan dukungan emosional yang berarti bagi dirinya sebagai orang tua; “Dengan mengikuti kegiatan ini saya mendapat mental support yang luar biasa dan ruang sharing yang membuat saya sadar bahwa saya tidak sendiri. Setelah sesi konseling, saya juga jadi lebih tahu apa yang perlu saya perbaiki dalam pola asuh dan bagaimana mengelola emosi saya,” ungkap salah satu peserta.
Orangtua lain juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk saling bertukar pengalaman mengenai pengasuhan anak. “Manfaatnya saya bisa sharing dengan orang tua lain tentang parenting anak. Kita bisa melihat mana yang bisa diterapkan dan mana yang tidak. Kegiatannya juga menyenangkan dan tidak membosankan,” ujarnya. Beberapa orangtua lainnya juga bahkan mengaku dapat mulai berkomunikasi kembali dengan pasangan masing-masing mengenai pola pengasuhan setelah mengikuti kegiatan ini. “Setelah kegiatan kemarin, saya sempat berdiskusi dengan suami dan kami sepakat untuk memperbaiki pola asuh serta komunikasi di antara kami,” tutur salah satu orangtua lainnya.
Melalui kegiatan ini, para orangtua diharapkan dapat memperoleh pemahaman baru serta merasa lebih percaya diri dalam membimbing dan mendampingi perkembangan anak mereka masing-masing. Para orang tua diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai pengasuhan anak dengan gangguan pendengaran, tetapi juga semakin yakin terhadap peran dan kemampuan mereka dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun dukungan psikologis bagi orang tua, sekaligus mempererat kolaborasi antara keluarga, praktisi profesional, serta para akademisi dalam menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi anak dengan kebutuhan khusus seperti hearing loss.

Gb3. Tim PkM Mahasiswa S2 Ubaya












