Time Indonesia – Suasana haru terasa kala Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Acara dipusatkan di Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
Wajah Presiden semringah ketika menyaksikan tayangan video bertajuk “Manifesto Sekolah Rakyat” yang menggambarkan semangat dan cita-cita yang menjadi fondasi pendidikan di Sekolah Rakyat. Seusai pemutaran video, siswa menampilkan teatrikal yang merefleksikan perjalanan dan harapan dalam membentuk masa depan anak-anak Indonesia.
Di sela-sela pertunjukan teatrikal tersebut, perwakilan siswa menyerahkan sebuah novel hasil karya para siswa kepada Presiden Prabowo. Momen bangga juga dirasakan Presiden saat empat siswa menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris, Cina, Jepang dan Arab.
Pun demikian, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf sempat menitikkan air mata haru saat menyampaikan laporan perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat. Baginya, Sekolah Rakyat merupakan sebuah terobosan dari Presiden Prabowo Subianto untuk memutus mata rantai kemiskinan dengan memuliakan anak-anak keluarga miskin melalui pendidikan yang berkualitas.
Ada hal yang menarik. Pada kesempatan itu, Mensos Saifullah Yusuf memperkenalkan Sekolah Rakyat dengan inovasi mutakhir: tes DNA talenta berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI). Aplikasi tersebut didesain untuk memetakan potensi bawaan setiap siswa sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di lembaga pendidikan tersebut.
Kebijakan itu hadir sebagai jawaban atas absennya tes akademik konvensional dalam proses penerimaan peserta didik. “Hasil tes DNA talenta membantu kami memahami potensi anak sejak awal sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan bakat dan minat masing-masing siswa,” tegasnya.
Pendekatan DNA Talent Mapping itu kunci untuk memastikan tidak ada lagi bakat yang terpendam karena terhalang standar penilaian akademik yang kaku.
Data awal yang terkuak dari pemindaian AI tersebut pun menarik. Sejumlah 1.828 siswa teridentifikasi memiliki potensi gemilang di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM).
Dari angka itu, 1.204 anak menunjukkan bakat kuat di ranah teknik seperti mekanik, teknisi otomotif, insinyur sipil, operator industri, hingga arsitek. Sementara itu, peta bakat juga mengungkap 1.938 siswa (39,6 persen) berpotensi di bidang sosial, 1.123 siswa (23,0 persen) di bidang bahasa, dan 8.860 siswa (16 persen) yang memiliki naluri kuat di bidang penegakan hukum seperti notaris, hakim, tentara, polisi, dan pengacara.
Peta potensi yang dihasilkan dari algoritma AI itu bukan sekadar data statistik. Ia menjadi fondasi hidup yang menggerakkan roda pendidikan di Sekolah Rakyat.
Pemetaan itu dasar penyusunan kurikulum yang bersifat personal bagi setiap anak. Kurikulum tersebut dijalankan oleh guru-guru tersertifikasi dan diperkuat oleh pembinaan karakter melalui figur wali asuh dan wali asrama.
Untuk mendukung proses belajar, sistem Learning Management System (LMS) dengan laptop sebagai media utama diterapkan, sementara penggunaan telepon genggam dibatasi secara ketat. Tentunya perangkat digital ini didukung oleh jaringan sinyal internet yang mumpuni. Sejak awal Kementerian Komunikasi dan Digital beserta operator telekomunikasi menyokong fasilitas digital di Sekolah Rakyat.
Sebagai bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan melalui pendidikan, Sekolah Rakyat yang telah beroperasi di 166 titik ini, memastikan pengawasan dan pemenuhan kebutuhan dasar siswa selama 24 jam lewat sistem asrama.
Setiap anak juga mendapat jaminan kesehatan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta makan bergizi seimbang tiga kali sehari ditambah dua kali makanan selingan.
Inovasi itu tidak lahir dari ruang hampa. Pemerintah mendapat dukungan penuh dari pakar pengembangan sumber daya manusia, Ary Ginanjar Agustian, serta melibatkan tim formatur yang berisi para pakar pendidikan dan kolaborasi dengan sekolah swasta.
“Kami sampaikan terima kasih atas kolaborasi multisektor seperti,” ucap Mensos, seraya menekankan bahwa masa depan pendidikan Indonesia digerakkan oleh gotong royong untuk mengubah nasib anak-anak dari keluarga prasejahtera.












