Time Indonesia – Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS yang diselenggarakan oleh Forum OSIS SMP Purwakarta pada Minggu, 8 Januari 2026, menjadi momentum penting dalam penguatan kapasitas kepemimpinan pelajar tingkat sekolah menengah pertama. Bertempat di SMP Negeri 1 Purwakarta, kegiatan ini menghadirkan Zidan Ramdani sebagai pemateri utama yang membawakan materi strategis seputar organisasi, pentingnya komunikasi organisasi, pembangunan student government yang baik, serta bagaimana mengatur ritme konflik di dalam organisasi pelajar.
Kegiatan LDK OSIS ini diikuti oleh perwakilan pengurus OSIS dari berbagai SMP di Purwakarta. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, terutama ketika Zidan Ramdani memulai pemaparannya dengan pendekatan yang komunikatif dan membumi. Ia tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga mengajak peserta berdialog dan merefleksikan pengalaman organisasi yang telah mereka jalani di sekolah masing-masing.
Dalam pemaparannya, Zidan menegaskan bahwa OSIS bukan sekadar organisasi seremonial atau pelengkap administrasi sekolah. OSIS adalah ruang belajar kepemimpinan yang nyata dan relevan bagi pelajar. Di dalamnya, siswa belajar mengambil keputusan, bertanggung jawab, bekerja sama, serta menghadapi perbedaan pendapat. Menurut Zidan, OSIS merupakan miniatur student government yang berfungsi sebagai wadah representasi dan pelayanan bagi seluruh siswa.
Materi organisasi menjadi pembuka yang menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam berorganisasi. Zidan menjelaskan bahwa organisasi yang sehat harus memiliki tujuan yang jelas dan dipahami bersama oleh seluruh pengurus. Ia mengingatkan bahwa banyak organisasi pelajar yang berjalan tanpa arah karena pengurusnya hanya fokus pada program kerja tanpa memahami nilai dan tujuan organisasi itu sendiri. “Organisasi bukan sekadar rutinitas, tetapi ruang pembentukan karakter,” ujarnya di hadapan peserta.
Zidan juga menyoroti pentingnya struktur organisasi dan pembagian peran yang proporsional. Menurutnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan tentang bagaimana seorang pemimpin mampu menggerakkan tim secara kolektif. Ketua OSIS bukanlah sosok yang harus mengerjakan semuanya sendiri, melainkan pemimpin yang mampu membangun kepercayaan, mendelegasikan tugas, dan memastikan setiap bidang bekerja sesuai fungsinya.
Salah satu sesi yang paling mendapat perhatian peserta adalah materi komunikasi organisasi. Zidan menegaskan bahwa komunikasi merupakan jantung dari keberlangsungan organisasi. Banyak konflik internal OSIS, menurutnya, bermula dari komunikasi yang tidak terbuka dan tidak efektif. Miskomunikasi antarbidang, asumsi sepihak, serta budaya sungkan dalam menyampaikan pendapat sering kali menjadi pemicu utama perpecahan internal.
Dalam sesi ini, Zidan mengajak peserta untuk membangun budaya komunikasi dua arah yang sehat. Ia menekankan pentingnya forum diskusi sebagai ruang aman untuk menyampaikan gagasan dan kritik. “Berbeda pendapat itu wajar, yang tidak wajar adalah memendamnya tanpa solusi,” tuturnya. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi peserta yang kelak akan menghadapi dinamika organisasi di sekolah.

Pada materi pembangunan student government, Zidan menekankan bahwa OSIS harus mampu menjadi jembatan antara siswa dan pihak sekolah. OSIS tidak boleh hanya berfungsi sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai penyampai aspirasi siswa secara konstruktif. Ia mendorong pengurus OSIS untuk lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi siswa, baik dalam aspek akademik, kegiatan kesiswaan, maupun iklim sosial di sekolah.
Menurut Zidan, student government yang baik lahir dari kepercayaan siswa. Kepercayaan tersebut hanya dapat dibangun melalui sikap transparan, konsisten, dan bertanggung jawab. Ia mengingatkan agar pengurus OSIS tidak bersikap eksklusif dan menjaga kedekatan dengan seluruh siswa. OSIS harus hadir sebagai organisasi milik bersama, bukan hanya milik segelintir pengurus.
Tidak kalah penting, Zidan membahas cara mengatur ritme konflik dalam organisasi. Ia menjelaskan bahwa konflik merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan berorganisasi. Namun, konflik tidak selalu berdampak negatif jika dikelola dengan bijak. Justru dari konflik, organisasi dapat belajar dan bertumbuh. Kuncinya adalah kemampuan pengurus untuk memisahkan persoalan pribadi dari kepentingan organisasi serta menjunjung tinggi musyawarah dalam setiap penyelesaian masalah.
Perjalanan kepemimpinan Zidan Ramdani sendiri menjadi contoh konkret dari apa yang ia sampaikan kepada para peserta. Ia menuturkan bahwa prosesnya berawal dari kepercayaan yang ia terima sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 189. Dari ruang OSIS itulah Zidan pertama kali belajar tentang tanggung jawab, kepemimpinan, komunikasi, serta dinamika konflik dalam organisasi pelajar. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang terus membentuk karakter dan cara berpikirnya.
Seiring waktu, Zidan terus melanjutkan kiprahnya dalam dunia organisasi hingga jenjang perguruan tinggi. Konsistensinya dalam berorganisasi membawanya aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Puncaknya, Zidan Ramdani terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Jakarta periode 2026/2027. Perjalanan ini membuktikan bahwa pengalaman organisasi di tingkat SMP memiliki peran besar dalam membentuk pemimpin muda di masa depan.
Melalui penyampaian yang inspiratif dan penuh refleksi, Zidan Ramdani berhasil menghadirkan suasana pembelajaran yang hidup dan bermakna. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga dorongan moral untuk lebih serius menjalani peran mereka sebagai pengurus OSIS. Kegiatan LDK OSIS Forum OSIS SMP Purwakarta ini diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin pelajar yang berintegritas, komunikatif, dan siap membangun student government yang sehat dan berdaya guna di lingkungan sekolah.












