Nasional

Melampaui Batas, Merajut Bunyi: Kolaborasi Unesa-UPSI Hidupkan Kuntulan Banyuwangi di Panggung Malaysia

546
×

Melampaui Batas, Merajut Bunyi: Kolaborasi Unesa-UPSI Hidupkan Kuntulan Banyuwangi di Panggung Malaysia

Sebarkan artikel ini

Time Indonesia – TANJONG MALIM, PERAK, Dalam sebuah upaya konkret diplomasi budaya dan penguatan identitas melalui seni, Tim Pengabdian Masyarakat (PKM) Internasional Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses menggelar serangkaian masterclass dan pertunjukan seni tradisi Jawa Timur di Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pada 18-19 Desember 2025 di Fakulti Muzik dan Seni Persembahan, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) ini, mengangkat kekayaan musik Terbang atau Kuntulan dari Banyuwangi ke pentas internasional.

Bertajuk East Javanese Traditional Arts and Culture as a Means of Strengthening Identity and Promoting Indonesian Culture, program ini bukan sekadar pertunjukan satu arah, melainkan laboratorium kolaborasi intensif. Dosen dan mahasiswa Unesa berperan sebagai katalisator, melatih langsung mahasiswa UPSI untuk kemudian bersama-sama menghasilkan karya pertunjukan yang segar dan dinamis.

Dari Teori ke Aksi: Pelatihan Intensif dan Eksplorasi Kreatif

Acara dibuka dengan pemaparan mendalam oleh Dr. Joko Winarko, S.Sn., M.Sn., yang mengenalkan filosofi, sejarah, dan dinamika musik Kuntulan Banyuwangi sebagai bentuk adu kreativitas dalam memainkan rebana. “Ini bukan hanya tentang teknik menabuh, tapi tentang energi, komunikasi antar-pemain, dan spontanitas yang lahir dari tradisi komunitas,” jelasnya.

Pemaparan tersebut langsung diimplementasikan dalam sesi pelatihan praktis. Para mahasiswa UPSI dibagi menjadi tiga kelompok spesialis: tujuh orang sebagai penabuh Terbang, delapan orang sebagai vokalis, dan lima orang sebagai pemain biola. Masing-masing kelompok dilatih oleh ahli dari Unesa: Raden Roro Maha Kalyana Mitta Anggoro, S.Pd., M.Pd.(vokal), Anbie Haldini Muhammad, S.Sn., M.A. (Terbang), dan Soumi, mahasiswa S2 asli Banyuwangi (biola). Proses ini dikawal secara ketat oleh Dr. Trisakti, M.Si. selaku Ketua Tim PKM dan Dr. Joko Winarko.

Kolaborasi sebagai Puncak Kreasi

Puncak dari masterclass adalah pertunjukan kolaboratif yang memadukan tiga elemen berbeda menjadi satu harmoni yang menakjubkan. Irama gemuruh dan energik tabuhan Terbang, dilapisi oleh alunan vokal yang khas, serta diselingi helusan tali biola yang memberikan nuansa melodius dan kontemporer. Hasilnya adalah sebuah interpretasi baru atas seni tradisi yang tetap menghormati akar, namun berani menyentuh rasa audiens lintas budaya.

“Yang paling menarik adalah sesi ‘adu kreativitas’, di mana kelompok-kelompok kecil yang baru dibentuk saling berimprovisasi. Di situlah semangat Kuntulan yang sesungguhnya hidup. Antusiasme mereka luar biasa,” ujar Anbie Haldini Muhammad, pelatih kelompok Terbang.

Antusiasme tersebut juga terpancar dari para peserta dan penonton yang memadati Panggung Budaya UPSI. Mereka tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari proses pertukaran budaya yang hidup dan bermakna.

Lebih dari Sekadar Pertunjukan: Membangun Jembatan Budaya Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Dr. Trisakti menekankan bahwa kegiatan ini adalah implementasi dan tindak lanjut dari komitmen kerjasama kedua universitas. “Ini adalah bahasa universal yang kita gunakan untuk memperkuat ikatan, bukan hanya antara institusi, tetapi antara manusia dan identitas budayanya. Kami ingin mahasiswa Malaysia tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan dan dapat memainkan salah satu kekayaan budaya Indonesia,” tuturnya.

Kegiatan yang diakhiri dengan foto bersama bersama Tim dari UPSI yakni Head of Department of Music and Music Education yakni Dr. Mohd Yusran bin Mohd Yusoff, Coordinator of International Mobility yakni Dr. Muchammad Bayu Tejo Sampurno, Coordinator Masterclass yakni Suniza bin Mustafa dan Muhammad Hairul Nazmi bin Muzaffar, serta Coordinator Guitar Class yakni Dr. Herry Rizal Djahwasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi batu pijakan untuk kolaborasi yang lebih masif di masa depan. Kerjasama Unesa dan UPSI, khususnya dalam bidang seni dan budaya, membuktikan bahwa dalam konteks globalisasi, tradisi lokal yang dikelola dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif justru dapat menjadi modal sosial yang kuat, alat diplomasi yang efektif, serta sumber inspirasi kreatif yang tak habis-habisnya.

Dengan demikian, geliat Kuntulan Banyuwangi di Tanah Melayu bukan sekadar euforia dua hari, melainkan penanaman benih yang diharapkan dapat tumbuh menjadi pohon kerjasama kebudayaan yang rindang antara Indonesia dan Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *