Pendidikan

Mahasiswa Malang Dan Realitas Kerja Di Industri Kreatif

764
×

Mahasiswa Malang Dan Realitas Kerja Di Industri Kreatif

Sebarkan artikel ini

Time Indonesia – Industri kreatif sering digambarkan sebagai ruang bebas berekspresi, penuh peluang, dan dekat dengan gaya hidup anak muda. Narasi ini juga kuat terasa di Kota Malang, kota yang kerap disebut sebagai kota pendidikan sekaligus kota kreatif. Namun, sebagai pelaku langsung di industri ini sejak 2021, saya melihat bahwa realitas kerja kreatif jauh lebih kompleks dari sekadar citra yang ditampilkan di media sosial.

Ketertarikan saya pada dunia kreatif berangkat dari keinginan sederhana: mengabadikan momen agar pengalaman hidup bisa dirasakan kembali di kemudian hari. Fotografi dan videografi bagi saya bukan hanya soal estetika visual, tetapi tentang menyimpan pengalaman manusia. Pada masa awal menekuni bidang ini, terutama saat pandemi, saya memiliki banyak waktu untuk bereksperimen dan membangun identitas kreatif tanpa tekanan pasar yang besar. Saat itu, persaingan belum sepadat sekarang.

Pengalaman bekerja sebagai fotografer dan videografer event, khususnya wedding, mengajarkan bahwa kerja kreatif tidak selalu romantis. Wedding adalah acara yang sangat personal dan emosional, sehingga pekerja kreatif dituntut hadir bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara emosional. Di balik hasil visual yang rapi, terdapat jam kerja panjang, tuntutan untuk terus bersosialisasi, dan tekanan agar tidak melewatkan satu pun momen penting. Dalam praktiknya, kualitas, keinginan klien, dan keterbatasan waktu sering kali tidak bisa berjalan beriringan. Jam terbang akhirnya menjadi penentu utama.

Sejak 2023, ketika saya juga berstatus sebagai mahasiswa di Malang, saya mulai merangkap peran sebagai konten kreator. Perubahan ini dipengaruhi oleh pergeseran perspektif klien dan pasar yang kini lebih menghargai momen-momen kecil, autentik, dan terasa “dekat”. Namun, peran sebagai konten kreator menghadirkan tantangan baru: tuntutan untuk selalu up to date, mengikuti tren, dan tunduk pada algoritma platform digital. Tidak jarang, idealisme kreatif harus bernegosiasi dengan kebutuhan untuk tetap relevan dan terlihat.

Sebagai kota dengan populasi mahasiswa yang besar, Malang menjadi ruang subur bagi tumbuhnya pekerja kreatif muda. Opini publik yang berkembang sering kali melihat industri kreatif sebagai peluang realistis bagi mahasiswa untuk bertahan secara ekonomi. Banyak yang memulai dari hobi, kemudian beralih menjadi sumber penghasilan. Namun, di sisi lain, melimpahnya tenaga kreatif juga menciptakan persaingan ketat. Harga jasa cenderung semakin murah, sementara tuntutan klien terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan yang kerap dianggap wajar atas nama “kesempatan” dan “eksposur”.

Sebagai mahasiswa yang masih aktif menempuh pendidikan, saya merasakan dilema ganda: tuntutan akademik di satu sisi, dan tuntutan profesional di sisi lain. Bertahan di industri kreatif sambil kuliah bukan perkara mudah. Burnout menjadi risiko nyata ketika produktivitas, studi, dan kebutuhan ekonomi saling bertabrakan. Namun, pilihan untuk bertahan lahir dari kesadaran bahwa industri kreatif meski tidak selalu stabil memberikan pengalaman berharga: saya bisa mendengar, merekam, dan belajar dari begitu banyak pengalaman manusia.

Industri kreatif di Malang, seperti di banyak kota lain, kini berada dalam bayang-bayang kapitalisme digital. Kreativitas semakin diukur melalui angka, bukan makna. Semua orang bisa menjadi kreator, tetapi tidak semua mendapatkan perlindungan, penghargaan, atau keberlanjutan. Dalam situasi ini, pekerja kreatif muda ermasuk mahasiswa perlu membangun kesadaran kritis agar tidak terjebak dalam glorifikasi kerja kreatif yang menutupi realitas eksploitasi.

Pada akhirnya, bertahan di industri kreatif bukan hanya soal kemampuan teknis atau mengikuti tren, tetapi tentang menjaga kualitas, kredibilitas, dan alasan awal berkarya. Di tengah tekanan pasar dan algoritma, penting untuk terus mempertanyakan: apakah kita masih menciptakan karya yang bermakna, atau sekadar memenuhi tuntutan sistem? Bagi saya, selama industri kreatif masih memberi ruang untuk merekam pengalaman manusia secara jujur, ia tetap layak diperjuangkan meski dengan sikap yang lebih kritis dan sadar batas.

Daftar Pustaka

  1. Sontag, S. (1977). On Photography. New York: Farrar, Straus and Giroux.
  2. Hochschild, A. R. (1983). The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling. Berkeley: University of California Press.
  3. Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: New York University Press.
  4. Hesmondhalgh, D. (2013). The Cultural Industries. London: Sage Publications.
  5. Fisher, M. (2009). Capitalist Realism: Is There No Alternative? Winchester: Zero Books.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *