Nasional

Konektivitas jadi Kunci Pemerataan dan Kedekatan Layanan Pendidikan

462
×

Konektivitas jadi Kunci Pemerataan dan Kedekatan Layanan Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Wamenkomdigi Nezar Patria menerima audiensi Johns Hopkins School of Advanced International Studies (SAIS) di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (12/01/2026). (Foto: Pey HS/Komdigi)

Time Indonesia – Bagi sebagian pelajar di Indonesia, sinyal internet bukan sekadar teknologi. Ia menjadi jembatan menuju ilmu pengetahuan, ruang kelas digital, dan masa depan yang lebih terbuka. Di daerah terpencil, koneksi internet kerap menentukan apakah seorang anak bisa mengikuti pelajaran daring atau tertinggal dari teman-temannya di perkotaan.

Komitmen pemerintah untuk menghadirkan akses internet yang merata kembali ditegaskan sebagai bagian dari pemenuhan hak belajar setiap anak bangsa. Pemerataan konektivitas dipandang sebagai fondasi penting bagi terwujudnya pendidikan digital yang inklusif dan berkeadilan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyampaikan bahwa hingga awal 2026, konektivitas internet telah menjangkau sekitar 97 persen wilayah berpenduduk di Indonesia. Meski demikian, tantangan utama saat ini terletak pada kualitas layanan, khususnya di wilayah pinggiran dan daerah terpencil.

“Kecepatan internet rata-rata nasional berada di kisaran 45 Mbps, masih di bawah rata-rata Asia Tenggara. Pemerintah menargetkan peningkatan hingga 100 Mbps dalam tiga tahun ke depan, termasuk perluasan jaringan generasi kelima yang saat ini masih di bawah 10 persen,” ujar Nezar saat menerima audiensi mahasiswa Johns Hopkins School of Advanced International Studies di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Senin (12/1/2026).

Menurut Nezar, kondisi geografis Indonesia yang luas dan jumlah penduduk yang besar membuat pemerataan jaringan harus dilakukan secara bertahap. Di wilayah padat penduduk, kualitas layanan relatif stabil, sementara di daerah terpencil penguatan infrastruktur terus dilakukan melalui pembangunan jaringan tulang punggung dan akses last mile.

“Di wilayah padat penduduk kualitas layanan relatif stabil, sementara di daerah terpencil penguatan infrastruktur terus kami lakukan secara bertahap,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, sektor pendidikan menilai konektivitas sebagai prasyarat utama transformasi pembelajaran digital. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, Gogot Suharwoto, dalam keterangan terpisah di Jakarta, Selasa (19/11/2025), menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan infrastruktur internet yang merata.

“Transformasi pembelajaran digital membutuhkan konektivitas yang andal. Pemerataan internet sangat menentukan agar pelajar di daerah terpencil memiliki kesempatan belajar yang setara dengan pelajar di wilayah perkotaan,” ujar Gogot.

Dukungan infrastruktur tersebut mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh pelajar. Rahma, siswi SMA di wilayah pesisir Sumatra Barat, mengatakan stabilnya akses internet dalam beberapa bulan terakhir sangat membantu proses belajarnya.

“Dulu kami sering tertinggal materi karena susah sinyal. Sekarang lebih mudah ikut kelas daring dan mencari referensi pelajaran,” ujarnya saat ditemui pada kegiatan literasi digital sekolah, Jumat (6/12/2025).

Selain membangun jaringan, pemerintah juga menaruh perhatian pada penguatan literasi dan talenta digital agar pemanfaatan internet benar-benar berdampak positif bagi dunia pendidikan.

“Konektivitas harus berdampak pada pendidikan dan masa depan anak,” tegas Nezar Patria.

Melalui pemerataan akses internet, pemerintah berupaya memperkecil kesenjangan digital sekaligus memastikan bahwa jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak Indonesia untuk belajar dan berkembang. Di balik setiap sinyal yang terhubung, tersimpan harapan agar pendidikan semakin dekat dan masa depan semakin terbuka bagi semua.

sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *