Nasional

Dari ‘Menjual yang Dipanen’ ke ‘Mengolah yang Dimiliki’: Kunci Kemandirian Ekonomi Ibu-Ibu Kader Posyandu Desa Warugunung

541
×

Dari ‘Menjual yang Dipanen’ ke ‘Mengolah yang Dimiliki’: Kunci Kemandirian Ekonomi Ibu-Ibu Kader Posyandu Desa Warugunung

Sebarkan artikel ini

Time Indonesia – Desa Warugunung, Kabupaten Mojokerto memiliki kekayaan agraria luar biasa, terutama komoditas jagung. Namun, potensi ini seolah berjalan di tempat karena pola distribusi yang masih tradisional. Petani dan warga terbiasa menjual hasil panen dalam bentuk mentah langsung kepada tengkulak atau pasar. Pola ini memberikan perputaran uang cepat, tetapi nilai tambahnya sangat minim bagi kesejahteraan warga. Tim mahasiswa yang terdiri dari Na’sha Presly Caurelysia, Ilhan Putera Damara, Andi Fyqri Hanyfa, Sevia Kikan Azzahra, dan Daniel Aryaduta Alfarado menilai diperlukan langkah strategis mengubah pola dari “menjual apa yang dipanen” menjadi “mengolah apa yang dimiliki”. Transformasi jagung mentah menjadi produk kreatif adalah kebutuhan mendalam untuk memperkuat struktur ekonomi pedesaan, khususnya di Dusun Kepatihan.

Masalah utama penjualan bahan mentah adalah kerentanan harga. Saat panen tiba, harga jagung seringkali merosot tajam karena suplai berlebih. Dengan mengolah jagung menjadi produk seperti Churros, Puding, dan Vla, terjadi proses hilirisasi hasil pertanian. “Satu buah jagung yang tadinya hanya bernilai murah, dapat meningkat harganya hingga berkali-kali lipat setelah diolah menjadi camilan kekinian,” jelas Na’sha Presly Caurelysia. Inovasi ini memberikan posisi tawar lebih kuat bagi warga karena tidak lagi bergantung sepenuhnya pada harga pasar jagung mentah.

Ibu-ibu kader Posyandu memegang peranan penting dalam transformasi ini. Menurut Ilhan Putera Damara dan Andi Fyqri Hanyfa, ibu-ibu kader memiliki jaringan sosial kuat sehingga sangat potensial memicu munculnya UMKM baru di desa. Dengan mempertimbangkan potensi Desa Warugunung sebagai Desa Wisata, produk seperti Churros jagung bukan hanya camilan keluarga, tetapi komoditas jualan kompetitif yang memberikan kemandirian finansial bagi perempuan desa. Kegiatan sosialisasi yang dipandu Na’sha Presly Caurelysia tidak hanya teori, tetapi langsung praktik pembuatan produk. Di hadapan ibu-ibu kader Posyandu, tim mahasiswa mendemonstrasikan pembuatan Churros Jagung, Puding Jagung, dan Vla dengan bahan baku jagung lokal.

Yang lebih menarik, Daniel Aryaduta Alfarado memberikan edukasi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). “Dari satu kilogram jagung seharga Rp 5.000, kita bisa menghasilkan 20 porsi churros dengan HPP Rp 3.000 per porsi. Jika dijual Rp 8.000-10.000, margin keuntungannya mencapai 60-70%,” Daniel Aryaduta Alfarado

Sevia Kikan Azzahra menambahkan bahwa perhitungan HPP sangat penting agar ibu-ibu tidak hanya sekedar berjualan, tetapi benar-benar untung dan berkelanjutan. Respon ibu-ibu sangat antusias ketika menyadari produk seperti Churros Jagung tidak hanya menarik dan kompetitif untuk dijual, tetapi juga mudah dipraktikkan di dapur sendiri. Ibu-ibu kader Posyandu secara spontan menyatakan bahwa Puding Jagung adalah jawaban tepat bagi kebutuhan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). “Ini sangat bermanfaat untuk kegiatan PMT di Posyandu kami. Puding jagung ini sempurna!” ujar salah satu ibu kader. Pelaku usaha lokal pun memberikan respons positif. “Setelah tahu cara membuat churros jagung dan perhitungan keuntungannya, saya jadi tertarik mengembangkan usaha. Apalagi bahan bakunya jagung sendiri yang mudah didapat di sini,” ungkap salah satu ibu-ibu Posyandu.

Dengan kesanggupan ibu-ibu menjadikan menu ini sebagai standar baru di Posyandu, desa tidak hanya berhasil menyerap hasil tani warga sendiri, tetapi juga memulai langkah nyata menuju kemandirian gizi berbasis potensi lokal. Sosialisasi yang digagas tim mahasiswa adalah pemantik untuk menyadarkan warga bahwa emas kuning yang tumbuh di ladang mereka memiliki potensi jauh melampaui apa yang mereka bayangkan. Jika transformasi ini berhasil diimplementasikan dan didukung penuh pemangku kepentingan desa, maka Desa Warugunung tidak lagi hanya akan dikenal sebagai penghasil jagung, melainkan desa kreatif yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara kesehatan.

Nama Penulis : Na’sha Presly Caurelysia

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Dosen Pembimbing : Novi Andari, S.S., M.Pd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *