Nasional

Balikpapan Maju, Tapi Industri Kreatif Masih Jalan di Tempat

558
×

Balikpapan Maju, Tapi Industri Kreatif Masih Jalan di Tempat

Sebarkan artikel ini

Nama : Dava Putra AjiAnanta
NIM : 202310040311175
Universitas Muhammadiyah Malang

Time Indonesia – Balikpapan selama ini dikenal sebagai kota industri yang maju, tertata, dan memiliki tingkat kesejahteraan relatif stabil. Ketergantungan pada sektor minyak dan gas (migas) telah membentuk citra bahwa stabilitas ekonomi hanya bisa diraih melalui industri tersebut. Namun, di balik narasi kemajuan itu, terdapat sektor lain yang berjalan pelan dan kerap luput dari perhatian: industri kreatif.

Padahal, Balikpapan memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Kota ini dihuni oleh generasi muda yang aktif, komunitas kreatif yang terus tumbuh, serta pelaku UMKM yang mulai memanfaatkan kreativitas sebagai nilai tambah usaha. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Sejumlah media lokal telah menyoroti kondisi ini. Radar Balikpapan dalam pemberitaannya pada tahun 2024 menegaskan bahwa Balikpapan memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif, namun potensi tersebut belum dikelola secara optimal dan belum menjadi prioritas dalam strategi pembangunan daerah. Hal senada juga disampaikan JPNN dalam laporan tahun 2018 yang menilai bahwa perkembangan sektor kreatif Balikpapan masih tertinggal dibanding kota-kota lain yang lebih berani menjadikan kreativitas sebagai penggerak ekonomi baru. Fakta ini menunjukkan adanya jarak antara potensi dan keberpihakan kebijakan.

Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari cara pandang masyarakat dan pemerintah daerah yang masih menempatkan migas sebagai tumpuan utama. Banyak orang masih meyakini bahwa bekerja di sektor migas adalah satu-satunya jalan menuju kehidupan yang stabil. Akibatnya, sektor lain—termasuk industri kreatif—sering dianggap sekadar pelengkap, bukan sebagai alternatif ekonomi yang serius.

Padahal, di era ekonomi digital, kreativitas justru menjadi kebutuhan lintas sektor. Menurut pendapat saya, kemampuan untuk bersaing hari ini tidak lagi hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga oleh identitas, pengalaman, dan narasi yang dibangun di sekitar produk tersebut. Di sinilah industri kreatif memainkan peran penting. UMKM di Balikpapan, misalnya, secara tidak langsung telah menjadi bagian dari industri kreatif. Kafe, ruang kopi, usaha kuliner, hingga bisnis berbasis gaya hidup mengandalkan konsep visual, desain interior, branding, media sosial, dan pengalaman pelanggan untuk menarik konsumen dan meningkatkan penjualan. Tanpa pendekatan kreatif, produk yang baiksekalipun akan sulit bersaing di tengah pasar yang semakin padat.

Sayangnya, keterlibatan UMKM dalam industri kreatif ini belum didukung oleh ekosistem yang kuat. Banyak pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri, tanpa pendampingan, jejaring, maupun kebijakan yang berpihak. Kreativitas tumbuh secara organik, tetapi tidak terhubung dalam sistem yang berkelanjutan. Situasi ini juga tercermin dalam dialog warga yang digelar DPRD Kota Balikpapan pada 6 September 2025.

Dalam forum tersebut, pengembangan ekonomi kreatif disebut sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, diskusi tersebut juga menegaskan masih adanya tantangan besar, mulai dari keberlanjutan program, lemahnya ekosistem, hingga minimnya keterhubungan antara sektor kreatif dan sektor lainnya. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Fitrah Fajrian dan rekan-rekannya (2023) yang menunjukkan bahwa industri kreatif digital di Balikpapan belum terintegrasi dengan baik dengan sektor non-kreatif.

Minimnya apresiasi, terbatasnya ruang ekspresi, serta belum adanya sistem pendukung yang kuat membuat industri kreatif sulit berkembang secara optimal. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Balikpapan berisiko kehilangan momentum. Ketergantungan berlebihan pada migas bukan hanya berbahaya secara ekonomi, tetapi juga membatasi ruang imajinasi generasi mudanya. Industri kreatif seharusnya dipandang sebagai investasi jangka
panjang, bukan sekadar aktivitas sampingan.

Balikpapan sebenarnya memiliki semua modal dasar untuk bersaing: sumber daya manusia, daya beli masyarakat, dan posisi strategis sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara. Yang masih kurang adalah keberanian untuk mengubah cara pandang dan keberpihakan kebijakan yang konsisten. Pengembangan industri kreatif tidak harus meniadakan migas, tetapi menjadi penyeimbang. Dengan membangun ekosistem kreatif yang sehat mulai dari regulasi, ruang ekspresi, pendanaan, hingga jejaring Balikpapan dapat menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pada akhirnya, masa depan Balikpapan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar cadangan migas yang dimiliki, tetapi oleh sejauh mana kota ini mampu memberi ruang bagi kreativitas warganya untuk tumbuh dan bersaing. Tanpa itu, potensi besar yang ada hanya akan terus menjadi potensi, tanpa pernah benar-benar menjadi kekuatan.

Daftar Pustaka
https://radarbalikpapan.com/balikpapan-miliki-potensi-kembangkan-ekraf/

https://dprd.balikpapan.go.id/post/dialog-warga peningkatan-kesejahteraan-masyarakat-melal ui-pengembangan-ekonomi-kreatif?

Fajrian, F., Zamzani, M. I., & Afrizal, F. (2023). Analisis strategi pengembangan industri kreatif digital di Kota Balikpapan. Surya Teknika, 10(1), 584–589.

https://web.balikpapan.go.id/berita/read/9848 utm https://m.jpnn.com/news/ekonomi-kreatif di-balikpapan-masih-tertinggal

https://binus.ac.id/bandungcreativepreneurshi /2025/06/09/tantangan-dan-peluang-indonesia dalam-memajukan-industri-kreatif/

https://www.inibalikpapan.com/dukung-industri-kreatif-balikpapan-komitmen-terus-beri-akses-ruang-kreasi anakmuda/#:~:text=BALIKPAPAN%2C%20inibal kpapan.com%20%E2%80 %94%20Pemerintah%20Kota%20Balikpapan%0melalui,film%2C%20animasi%2C%20iklan%220hingga%20karya%2Dkarya%20kreatif%0lainna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *