Nasional

Deteksi Dini Jadi Kunci, Kerusakan Hati Bisa Dicegah Sejak Awal

251
×

Deteksi Dini Jadi Kunci, Kerusakan Hati Bisa Dicegah Sejak Awal

Sebarkan artikel ini
Tahapan kerusakan hati pada manusia. (sumber: Kemenkes)

Time Indonesia – Hati memiliki peran vital dalam menjaga kelangsungan hidup manusia karena bekerja tanpa henti selama 24 jam. Organ ini dikenal sebagai “pabrik kimia terbesar” dalam tubuh yang menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari detoksifikasi, metabolisme, hingga produksi protein yang dibutuhkan tubuh.

Paparan tersebut disampaikan Ahli Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (PISP), Prof. Dr. dr. David Handojo Muljono, Sp.PD dalam kegiatan Healthy Liver Awareness 2026 dengan tema “Solid Habit, Strong Liver” bersama Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa hati berperan penting dalam menyaring berbagai zat berbahaya yang masuk ke tubuh, termasuk obat-obatan dan alkohol, melalui proses detoksifikasi alami. “Hati juga mengatur metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta menyimpannya dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi tubuh,” ujarnya.

Selain itu, hati memproduksi protein penting seperti albumin yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Kekurangan albumin dapat memicu pembengkakan pada kaki hingga penumpukan cairan di rongga perut.

Fungsi lainnya mencakup pembentukan faktor pembekuan darah, produksi empedu untuk membantu pencernaan lemak serta penyerapan vitamin A, D, E, dan K, hingga peran dalam sistem imun dengan menangkap dan menghancurkan bakteri maupun zat asing.

Adapun, dr. David Handojo menjelaskan, kerusakan hati dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti infeksi virus, konsumsi alkohol, perlemakan hati, penyakit autoimun, hingga gangguan metabolik.

Secara umum, proses kerusakan hati diawali dengan inflamasi atau peradangan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memicu terbentuknya jaringan parut atau fibrosis sebagai respons tubuh. “Fibrosis pada tahap awal masih dapat diperbaiki. Namun jika berlanjut, jaringan parut akan menggantikan jaringan hati normal dan berkembang menjadi sirosis,” jelasnya.

Pada tahap sirosis, struktur hati menjadi keras, aliran darah terganggu, dan fungsi organ menurun. Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi seperti perut membesar akibat penumpukan cairan, mata menguning, hingga gangguan pembekuan darah.

Ia menegaskan, penanganan penyakit hati tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya pencegahan dan deteksi dini. Pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi, menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, serta menghindari konsumsi alkohol dan perilaku berisiko.

Sementara itu, deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan fungsi hati, tes darah, USG, hingga metode non-invasif seperti elastografi untuk menilai tingkat fibrosis. “Semakin dini kelainan hati ditemukan, semakin besar peluang untuk pulih dan mencegah kondisi menjadi lebih berat,” tegasnya.

Penanganan medis juga disesuaikan dengan penyebab, seperti pemberian antivirus untuk hepatitis virus, penghentian konsumsi alkohol, pengendalian berat badan pada perlemakan hati, hingga terapi khusus untuk penyakit autoimun.

Pada kondisi lanjut, terapi dapat mencakup tindakan medis, kemoterapi, terapi target, hingga transplantasi hati sebagai opsi terakhir.

dr. David menekankan bahwa pesan utama dalam penanganan penyakit hati adalah menghentikan kerusakan sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. “Semakin cepat kerusakan hati dihentikan, semakin besar peluang untuk pulih dan terhindar dari komplikasi serius,” ujarnya.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *