Nasional

HIMKLA Paparkan Realitas Hidup di Ujung Mahakam Saat Kemarau

420
×

HIMKLA Paparkan Realitas Hidup di Ujung Mahakam Saat Kemarau

Sebarkan artikel ini

Time Indonesia – Kemarau yang kembali melanda Mahakam Ulu pada awal 2026 kembali membuka luka lama masyarakat pedalaman, khususnya di Kecamatan Long Apari. Sungai Mahakam yang selama ini menjadi satu-satunya jalur kehidupan kembali surut, membuat distribusi logistik tersendat dan memicu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak luas ke berbagai sektor kehidupan.

Kondisi ini sejatinya bukan hal baru. Pola serupa telah terjadi sebelumnya pada 27 Juli 2025, ketika kemarau panjang menyebabkan transportasi sungai lumpuh dan pasokan kebutuhan pokok terganggu. Namun hingga kini, siklus krisis tersebut terus berulang tanpa adanya sistem antisipasi yang jelas.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kecamatan Long Apari (HIMKLA), Benediktus Sava, menegaskan bahwa kemarau di wilayah pedalaman tidak bisa lagi dipandang sebagai fenomena musiman biasa. Menurutnya, setiap kali air sungai menyusut, kehidupan masyarakat langsung terhenti.

“Di Long Apari, kemarau selalu berarti krisis. BBM langka karena tidak bisa diangkut lewat sungai, lalu harga sembako naik, dan aktivitas ekonomi berhenti. Warga sangat bergantung pada jalur air, jadi ketika sungai dangkal, semuanya ikut lumpuh,” ujar Benediktus Sava.

Kelangkaan BBM menjadi pemicu utama memburuknya situasi. Tanpa bahan bakar, transportasi lokal terhenti, distribusi antar kampung terganggu, dan berbagai aktivitas produktif tidak dapat berjalan. Dampaknya merambat cepat ke sektor ekonomi rumah tangga yang sudah rentan sejak awal.

Benediktus Sava menggambarkan kondisi warga saat ini sebagai situasi bertahan di tengah keterbatasan. Banyak masyarakat terpaksa menghentikan pekerjaan harian dan menunggu tanpa kepastian kapan pasokan kembali normal. Tekanan ekonomi pun semakin berat seiring melonjaknya harga kebutuhan pokok.

Ironisnya, hingga saat ini belum terlihat respons nyata dari pemerintah terhadap krisis yang tengah berlangsung. Padahal kemarau di Mahakam Ulu bukan peristiwa tak terduga, melainkan pola tahunan yang seharusnya bisa diantisipasi melalui perencanaan logistik dan kebijakan khusus wilayah pedalaman.

Kampung Long Apari menjadi titik paling terdampak karena berada di ujung aliran Sungai Mahakam. Seluruh pasokan BBM, sembako, dan kebutuhan hidup lainnya hanya bergantung pada transportasi sungai. Ketika jalur ini terganggu, masyarakat terisolasi secara ekonomi dan sosial.

Benediktus menilai kondisi ini mencerminkan ketimpangan akses pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedalaman. Selama solusi jangka panjang tidak dihadirkan, masyarakat Long Apari akan terus menghadapi krisis yang sama setiap kali musim kemarau datang.

“Kemarau ini bukan sekadar soal cuaca, tapi soal sistem yang tidak pernah disiapkan untuk melindungi masyarakat pedalaman. Kalau terus dibiarkan, penderitaan ini akan selalu terulang setiap tahun,” tegasnya.

Oleh: Benediktus sava

Instagram:

@himkla_official

@benediktussava

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *