Time Indonesia – Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI) menggelar Kongres IDEI 2026 yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema “Tantangan dan Peluang Sustainability Economic untuk Indonesia Emas” serta Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IDEI Periode 2025–2030, Selasa (13/1), di BeSS Mansion Hotel Surabaya.
Kongres ini menjadi momentum strategis konsolidasi organisasi sekaligus ruang intelektual untuk merespons dinamika ekonomi global, nasional, dan daerah di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi dunia. Kegiatan tersebut dihadiri akademisi, praktisi, peneliti, serta para doktor ekonomi dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak sesi pembukaan, IDEI menegaskan bahwa diskursus ekonomi tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan tanggung jawab intelektual dalam membangun peradaban ekonomi bangsa.
Ketua Umum IDEI Prof. Dr. Hary Soegiri, MBA menegaskan bahwa Kongres IDEI bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan forum refleksi dan penegasan arah peran IDEI ke depan. Menurutnya, IDEI harus terus bergerak menjadi organisasi profesi yang berkontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi nasional.
“Kongres IDEI adalah momentum strategis untuk melakukan konsolidasi dan menegaskan peran IDEI sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah, dunia usaha, dan kebutuhan riil masyarakat. Para doktor ekonomi tidak boleh berhenti di menara gading akademik, tetapi harus hadir dengan gagasan yang solutif, aplikatif, dan berdampak,” ujar Prof. Hary Soegiri.
Ia menambahkan, tema sustainability economic sangat relevan dengan agenda Indonesia Emas 2045. Pembangunan ekonomi ke depan, kata dia, tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi juga harus memastikan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan, sekaligus menjaga agar pembangunan tidak tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya bangsa.
“Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkelanjutan justru akan menimbulkan masalah baru. Karena itu, IDEI mendorong paradigma pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan, pemerataan, dan keberlanjutan lingkungan,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, menyampaikan sambutan secara virtual. Emil mengucapkan selamat atas terselenggaranya Kongres IDEI 2026 sekaligus menyampaikan apresiasi atas dilantiknya Pengurus DPP IDEI Periode 2026–2029.
Dalam paparannya, Emil menjelaskan kondisi perekonomian Jawa Timur yang memiliki posisi strategis sebagai center of gravity atau Gerbang Baru Nusantara, dengan kekuatan demografi, geografis, serta kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Ia menekankan pentingnya praktik keberlanjutan di tingkat daerah sebagai kunci menjawab tantangan pembangunan masa depan.
“Jawa Timur memiliki peran penting dalam menopang perekonomian nasional. Namun di tengah tantangan efisiensi anggaran, penyesuaian transfer ke daerah, serta dinamika global, diperlukan perubahan paradigma pembangunan yang lebih adaptif dan berorientasi pada dampak,” kata Emil.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak lagi bisa diukur dari serapan anggaran semata, melainkan dari hasil dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
“Kita harus bergeser dari pola _spending oriented_ menuju _outcome_ dan _value-creating oriented._ Pembangunan harus dinilai dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar besaran anggaran yang dibelanjakan,” tegasnya.
Seminar nasional dalam Kongres IDEI 2026 juga menghadirkan ekonom dan pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy. Dalam paparannya yang berjudul “Pertumbuhan Ekonomi Tersendat, Masyarakat Tetap Melarat”, Noorsy menyoroti paradoks ekonomi yang terjadi di Indonesia, di mana capaian makroekonomi belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi riil kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi yang terlihat stabil belum sepenuhnya mencerminkan kondisi kesejahteraan masyarakat. Berbagai indikator sosial dan ekonomi menunjukkan masih kuatnya tekanan terhadap daya beli dan ketimpangan, sehingga diperlukan keberanian untuk menata ulang arah kebijakan ekonomi nasional.
“Pertumbuhan ekonomi yang tercatat secara statistik tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Ketika daya beli melemah dan ketimpangan melebar, maka masyarakat tetap merasakan kesulitan meskipun angka pertumbuhan terlihat positif,” ujar Noorsy.
Ia juga menilai bahwa tekanan ekonomi global, struktur ekonomi nasional yang rapuh, serta ketergantungan pada sistem ekonomi yang tidak berdaulat menjadi tantangan besar yang harus dijawab dengan kebijakan yang lebih inklusif dan berpihak pada rakyat.
“Indonesia memerlukan arah kebijakan ekonomi yang lebih berdaulat dan berkeadilan. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi berisiko hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, sementara masyarakat luas tetap berada dalam tekanan,” tambahnya.
Selain seminar nasional, Kongres IDEI 2026 juga dirangkaikan dengan pengukuhan Pengurus DPP IDEI Periode 2025–2030, sebagai bagian dari penguatan kelembagaan dan regenerasi organisasi. Momentum ini menjadi simbol estafet kepemimpinan dan penjagaan marwah keilmuan IDEI agar tetap berada di jalur integritas akademik dan kepentingan bangsa.
Dari sisi kelembagaan, Prof. Dr. Hj. Sukesi, Bendahara Umum IDEI, menegaskan bahwa Kongres IDEI 2026 juga menjadi tonggak penguatan organisasi melalui pelantikan pengurus baru.
“Pengukuhan DPP IDEI Periode 2025–2030 diharapkan memperkuat soliditas organisasi serta memperluas kontribusi IDEI sebagai mitra strategis pemerintah dalam perumusan kebijakan ekonomi nasional,” ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Dr. Zainal Muttaqin, Wakil Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga IDEI, yang menyampaikan bahwa IDEI ke depan akan memperkuat kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari ikhtiar kolektif membangun ekonomi yang beradab.
“Kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga nasional maupun internasional menjadi kunci agar gagasan-gagasan IDEI tidak berhenti sebagai wacana, tetapi terimplementasi dalam kebijakan dan praktik pembangunan,” katanya.
Kongres IDEI 2026 juga dihadiri sejumlah tamu kehormatan dari kalangan akademisi dan praktisi, di antaranya Dr. Ir. Jamhadi, M.BA Ketua Kadin Surabaya, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring Gurky, S.E., M.Si dari Universitas Ciputra, Prof. Dr. Ir. Pribadiyono, M.S dari Quantum HRM International, serta Prof. Dr. Dra. Ignatia Martha H., M.E dari UPN Veteran Jawa Timur. Selain itu, puluhan pimpinan perguruan tinggi dan guru besar anggota IDEI turut hadir, menegaskan kuatnya basis intelektual dan jejaring nasional organisasi ini.
Kongres IDEI 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan pemikiran strategis yang mampu memperkuat fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan, sekaligus meneguhkan peran IDEI sebagai wadah intelektual para doktor ekonomi yang kritis, konstruktif, dan berorientasi pada kepentingan bangsa.












