Dosen Pendamping:
Novi Andari, SS., M.Pd
Nama Anggota Sub 5:
Muhammad Akbar Bintang / 1152200208
Nazhiira Zakiyyah Margaretha / 1112300119
Achmad Rifaldi / 1312300040
Davin Rafico Herera / 1152200320
Simone Philipus D.S. Pajo / 1312100284
Time Indonesia – Limbah oli bekas masih menjadi persoalan lingkungan yang kerap diabaikan, padahal dampaknya sangat serius. Oli bekas dari bengkel dan kendaraan bermotor termasuk limbah yang sulit terurai dan berpotensi mencemari tanah serta air jika dibuang sembarangan. Di sisi lain, praktik ramah lingkungan seperti ecoprint terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk berkelanjutan. Namun, ecoprint masih menghadapi kendala utama, terutama pada proses steaming yang selama ini bergantung pada kompor gas atau listrik dengan biaya operasional relatif tinggi.
Proses steaming merupakan tahap krusial dalam ecoprint karena berfungsi mengikat pigmen alami agar menempel optimal pada serat kain. Ketergantungan pada energi konvensional membuat pelaku UMKM dan komunitas kreatif kesulitan menekan biaya produksi. Kondisi ini menjadi hambatan bagi ecoprint untuk berkembang sebagai usaha yang berkelanjutan, khususnya di tingkat masyarakat desa yang memiliki keterbatasan akses dan modal produksi.
Pemanfaatan kompor oli bekas sebagai alat steaming ecoprint menghadirkan solusi sederhana yang menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu pengelolaan limbah dan efisiensi biaya. Berdasarkan hasil kegiatan di Desa Warugunung, kompor oli bekas mampu menghasilkan panas yang stabil dan memadai untuk proses pengukusan kain ecoprint. Stabilitas panas tersebut berdampak langsung pada kualitas hasil, di mana motif daun pada kain terlihat lebih jelas, tajam, dan merata, menandakan proses fiksasi pigmen alami berlangsung lebih optimal.
Dengan demikian, kompor oli bekas tidak hanya berfungsi sebagai alternatif sumber energi murah dan ramah lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan mutu produk ecoprint. Inovasi teknologi tepat guna ini menunjukkan bahwa limbah dapat diubah menjadi sumber daya bernilai, biaya produksi dapat ditekan, dan kualitas hasil produksi dapat ditingkatkan secara bersamaan. Pendekatan sederhana dan mudah direplikasi ini berpotensi menjadi penggerak ekonomi kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan di tingkat masyarakat.












